Imam syahid Hasan Al-Banna mengatakan “ Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorinetasikan perkataan,perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah sw ; mengharap keridhaan-Nya dan memperolah pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. (Syarah Risalah Ta’lim)
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Rab semesta alam ( al-An’am : 162)
Ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah swt dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagi polutan duniawi. Karena itu, seseorang tidak mencemari amalnya dengan keinginan – keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan,kedudukan,harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghinari cercaan mereka, mengikuti hawa nafsu, atau penyakit – penyakit serta polutan – polutan lain yang dapat dipadukan dalam satu kalimat yaitu melakukan amal untuk selain Allah apapun bentuknya.
Ikhlas semacam itu merupakan salah satu buah daru kesempurnana tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadahdari itu riya’ yang merupakan lawan dari ikhlas dianggap sebagai kesyirikan. Bahkan Syadad bin aus berkata “ dimasa Rasulullah saw kami menganggap riya’ sebagai syirik kecil”(Mujma’uz Zuwaid, Kitabuz Zuhdi, bab Ja’ahur riya. 10/225)
Dua Rukun diterimanya Amal
Dalam Risalah Ta’lim dijelaskan bahwa setiap amal shalih tidak diterima oleh Allah swt kecuali jika terpenuhinya dua rukun yaitu
1. Keikhlasan dan lurusnya niat
Terkait dengan rukun pertama ini Rasulullah saw bersabda “ Sesungguhnya amal – amal itu dinilai dengan niatnya” (Fat-hul Bari : 1/15, no.1). jika kita renungkan hadits ini merupakan tolok ukur suasana batin amalan manusia. Maka ketika manusia melakukan amal diawali dengan niat yang menisbatkan seluruh amalnya kepada keridhaan Allah swt serta membersihkannya dari segala bentuk polutan dan penyakit duniawi maka ia akan mencapai keshahihan batin.
2. Sejalan dengan sunnah
Rasulullah saw bersabda “ barangsiapa yang melakukan sesuatu amalan bukan atas perintahku (sunnah rasul) maka ia tertolak” ( HR Muslim:3/1343, no 1718). Hadits ini merupakan tolok ukur lahir amalan manusia. Maka ketika manusia melakukan segala amal dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw maka ia akan mencapai keshahihan lahir.
Fudhail bin ‘iyadh berkata tentang firman Allah swt :
“ Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya…” (Al-Mulk: 2)
Yang dimaksud dengan lafal “akhasanu amalan” (yang lebih baik amalnya) adalah yang paling ikhlas dan yang paling tepat. Ditanyakan kepada Fudhail bin iyadh : apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling tepat, wahai Abu Ali ?” ia menjawab : “sesungguhnya suatu amal itu bila dilakukan dengan ikhlas namun tidak tepat maka tidak diterima amalnya oleh Allah swt, dan bila amal itu dilakukan secara tepat tetapi tidak diiringi dengan keikhlasan maka amal itu tidak diterima. Amal tidak akan diterima sehingga dilakukan dengan ikhlas dan tepat. Yang dimaksud ikhlas disini adalah menjadikan amal untuk Allah swt sedangkan tepat adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw” kemudian Fudhail membaca firman Allah swt “Barangsiapa mengharap perjumapaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (Al-Kahf : 110)
Urgensi Ikhlas bagi aktivis Dakwah
Perjuangan untuk mengembalikan hegemoni Islam dan pengendalian kehidupan akidahnya, syariatnya, akhlaqnya dan peradabannya merupakan ibadah taqarrub kepada Allah swt. Oleh karena itu keikhlasan niat dalam melaksanakan ibadah tersebut merupakan syarat utama bagi diterimanya amal juga bagi kesuksesannya, karena niat yang tercampuri (tidak ikhlas) dapat merusak amal, mengotori jiwa, melemahkan barisan dan menggagalkan pahala.
Karena alasan itulah Imam Bukhari memulai bukunya al-Jami’us Shahih dengan hadits yang sebagian ulama menganggapnya seperempat ajaran Islam atau sepertiganya, yaitu sabda Rasulullah saw “ Sesungguhnya amal – amal itu (dinilai berdasar niatnya), dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Baragsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu untuk Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang behijrah karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan yang diinginkannya” (Fat-hul Bari : 1/15.hadis nomor 1)
Aktivis muslim harus memeriksa relung – relung hatinya dan meneliti hakikat tujuan serta motivasinya. Apabila di dalamnya terdapat bagian – bagian untuk dunia dan setan, maka ia harus segara berjihad untuk membersihkan hatinya dari kotoran tersbut, berupaya mengikhlaskan niat hanya kepada Allah swt serta menazarkan dirinya hanya untuk Allah swt. Sebagaiman yang telah diucapkan oleh istri Imran “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Ali Imran; 35)
Dalam ayat diatas dalam bahasa arabnya terdapat kata Muharraran yang diucapkan oleh istri Imran. Yang ternyata memberikan indikasi bahwa Allah swt tidak akan menerima suatu amal kecuali bila telah murni dari kesyirikan dan bebas dari penghambaan kepada selain-Nya.
Kehidupan tidak akan dipimpin oleh kebenaran, tertaburi kebaikan, terkuasai oleh keadilan dan bendera kemuliaan berkibar padanya selama aktivis dakwahnya tidak teguh pada keikhlasan beramal dan masih adanya orang – orang yang memperdagangkan prinsip. Yaitu orang – orang yang tidak beramal kecuali unruk mencari keuntungan dunia. Juga karena orang – orang yang mencari muka yaitu orang – orang yang tidak beramal kecuali untuk dilihat, didengar, dijadikan pembicaraan, dan ditokohkan oleh manusia. Kebenaran, kebajikan dan kemuliaan akan mendapatkan kemenangan ketika para pengusung dakwahnya serta adanya orang – orang yang senantiasa memegang prinsip, memperngaruhi bukan dipengaruhi, rela berkorbansan bukan pencari keuntungan serta siap memberi bukan siap menerima.
Penyakit hati yangmengotori keikhlasan serta merusak niat lebih parah dan membahyakan daripada penyakit fisik karena penyakit hati dapat merusak pahala dan menjauhkan pemiliknya dari jalan dakwah yang benar. Akan tetapi, kita dapat melawannya dengan keimanan dan ketaqwaan.
Wallahu a’lam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar